Kawal Milenials, Anas: Saatnya Kaum Muda Melakukan Perubahan

Malang Raya

Malang – Mendengar kata ‘politik’, perspektif masyarakat langsung terbayang segala keburukan yang muncul akibat proses politik. Bahwa politik itu kejam, penuh kecurangan, buruk dan kotor, dan lebih banyak mudarat daripada maslahatnya.

Apalagi politik dikaitkan dengan ladang korupsi. Belum kering dalam ingatan, 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang tersangkut kasus korupsi tahun lalu. Realitas seperti itu yang membuat masyarakat skeptis terhadap politik. Sikap antipati pun tak terhindarkan.

Politik yang diterjemahkan sebagai usaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, seperti kata pakar, Miriam Budiarjo, dalam praktiknya justru digunakan sebagai sarana pemenuhan kepentingan pribadi.

Skeptisisme akhirnya berujung pada sikap apatis terhadap politik. Masyarakat, terlebih kaum muda, semakin tak peduli pada politik dan menganggap upaya dan partisipasi mereka dalam politik tidak akan mengubah keadaan yang sudah ada.

Padahal, anak muda jadi bagian yang teramat penting bagi kemajuan dan keberlangsungan sebuah negara. Anak muda (milenials) juga memegang peran penting, karena kelak akan memimpin dan menentukan arah negara ini

Menyikapi semua itu, politisi muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Malang, Muhammad Anas Muttaqin, angkat bicara. Menurut alumnus UIN Maliki Malang ini, momentum tahun politik 2019 harus disikapi sebagai peluang bagi generasi milenials untuk melakukan perubahan revolusioner.

“Anak muda harus menjadi agent of change dalam politik dan mampu mengubah pandangan umum yang skeptis terhadap politik, menjadi optimistis. Caranya, harus ikut aktif berpartisipasi di dalamnya,” tegas calon anggota DPRD Kota Malang Dapil Sukun itu.

Mantan Ketua Karang Taruna Kota Malang itu juga mengatakan, kebanyakan anak muda sudah lelah berteriak, lantaran aspirasi mereka tak mendapat sambutan positif pemerintah. Nah, daripada menunggu pemerintah berbuat, anak muda harus berinisiatif mencarikan solusi melalui program atau gerakan nyata.

Menurut Anas, tidak ada yang salah dari mencari solusi dan menginisiasi gerakan perubahan. Namun, tidak semua p paham bahwa pada akhirnya perubahan di tataran politik dan pemerintahan tetap dibutuhkan.

“Ini membuat kita sering lupa bahwa akar permasalahan dari situasi di negeri ini salah satunya adalah para pengambil keputusan dan kebijakan yang tidak benar-benar menjalankan tanggung jawabnya untuk mensejahterakan rakyat. Akibatnya, banyak perubahan yang kandas di tengah jalan terbentur regulasi,” rincinya.

“Kalau bukan sekarang kapan lagi. Ini saatnya kaum muda terjun ke dunia politik, dan ikut mengawal setiap proses politik sebagai langkah awal positif bagi regenerasi perpolitikan Indonesia,” imbuhnya.

Keterlibatan kaum muda terjun dalam pemilihan legislatif pun sangat dibutuhkan, selain dinilai mampu menarik kalangan milenial dalam proses pemilihan, juga sebagai representasi suara anak muda.

Data KPU Kota Malang dari 610.671 jiwa Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu 2019 di Kota Malang, sekitar 20-25 % diisi oleh pemilih pemula (Pemilih muda) atau usia 17 tahun.