KAMI: Negara dan Bangsa Indonesia dalam Kondisi Bahaya

Nasional

NOTULA – Saat ini negara dan bangsa Indonesia dianggap dalam kondisi bahaya, karena kekacauan terjadi hampir di semua bidang kehidupan masyarakat.

Demikian tajuk dari Tatapan Indonesia 2021 yang diselenggarakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), pada konferensi pers virtual, Selasa (12/1/21) siang.

Di awal konferensi pers, KAMI menyampaikan duka dan belasungkawa mendalam atas peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dan bencana longsor di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

“Mencermati perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam satu tahun terakhir, KAMI menyampaikan, saat ini negara dan bangsa Indonesia dalam kondisi ‘bahaya’,” jelas Presidium KAMI, Rochmat Wahab, seperti dikutip dari RMOL.id.

Menurut dia, peringatan dini perlu disampaikan KAMI, akibat kemerosotan dan kekacauan yang telah terjadi hampir di semua bidang kehidupan rakyat, yang kondisinya semakin luas dan dalam.

Apalagi, kata Rochmat, dampak dari semua itu dirasakan betul oleh rakyat miskin dan kurang mampu.

“Ini ironis, karena mereka penduduk mayoritas di republik ini, namun bernasib sebaliknya, minoritas secara ekonomi dan politik,” katanya.

Kondisi bangsa dan negara ini, lanjut Rochmat, bisa dilihat dari merosotnya indikator-indikator di bidang politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya, serta lingkungan hidup.

Konferensi pers virtual ini juga dihadiri Presidium KAMI lainnya, Din Syamsuddin, Gatot Nurmantyo, serta anggota Majelis Penyelamat Indonesia (MPI) KAMI.

Yang Kritis Dilindungi, Bukan Dipenjara
Ditambahkan juga, niatan pemerintah menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dinilai telah menabrak semangat, nilai-nilai, dan kejuangan kemerdekaan Indonesia.

Rochmat mencatat, indeks demokrasi dengan angka kebebasan sipil 5,59 diperkirakan makin menurun pada 2021. Itu memperlihatkan betapa kekuasaan telah membungkam hak berbicara dan berorganisasi warga negara, sebagai hak dasar warga negara yang dijamin UUD 1945.

“Mereka yang menyampaikan aspirasi dan kritis terhadap pemerintah, yang harusnya dilindungi, justru diperkarakan dan dipenjarakan,” terangnya.

Bagi KAMI, pemerintah terlihat telah bekerja dengan kepalsuan pencitraan kekuasaan. Seolah mereka bekerja untuk rakyat, realitanya kekuasaan didayagunakan hanya untuk diri dan kelompok sendiri, sesuai ego politik dan kepentingan oligarki, bersama koalisi partai politik yang terus menerus menggerus kedaulatan rakyat.

Perilaku politik yang korup dan meningginya perilaku otoriterianisme merupakan wajah buruk kekuasaan saat ini.

Dalam kaitan ini, Rochmat menilai bahwa gagasan masa kepemimpinan presiden menjadi tiga periode adalah suatu contoh gagasan yang mengarah kepada absolutisme kekuasaan. “Ini sangat berbahaya bagi kehidupan kebangsaan,” tegasnya.