NOTULA – Tokoh nasional yang juga pakar ekonomi, Rizal Ramli, mengaku heran pasangan Jokowi-Ma’ruf mengaku menang hingga 50 persen lebih. Menurutnya, Jokowi memang dirancang untuk menang.

“Tidak masuk akal. Tahun 2014 Jokowi memang populer. Tetapi waktu itu yang milih Jokowi hanya 53 persen, mungkin kecurangan 2 persen, yang sungguh-sungguh dukung dia hanya 51 persen. Kok bisa sekarang dirancang supaya Jokowi menang sampai 68 persen,” tegas Rizal Ramli, di depan massa yang hadir di Hotel Grand Syahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (14/5).

Padahal, sambung dia, banyak permasalahan yang terjadi di era pemerintahan Jokowi. Menurutnya, Jokowi memang sudah dirancang sedemikian rupa untuk menang pada Pilpres 2019 ini.

“Ekonomi susah, daya beli rakyat anjlok, harga-harga naik, umat Islam merasa diperlakukan tidak adil, kok bisa naik? Ya karena memang (Jokowi) dirancang harus menang,” tegasnya lagi.

Ditambahkan juga, kecurangan yang terjadi pada Pilpres 2019 ini sudah luar biasa, setelah melihat dugaan kecurangan yang terjadi sebelum Pilpres hingga usai pencoblosan.

“Kali ini skala kecurangannya luar biasa. Sebelum Pilpres, pada saat Pilpres dan setelah Pilpres. Yang paling signifikan adalah daftar pemilih palsu atau abal-abal yang jumlahnya 16,5 juta,” paparnya.

Menurut Rizal, seperti dikutip dari rmol.co, jika KPU mau bekerja profesional, bisa saja melakukan pengecekan terhadap jumlah daftar pemilih yang dinilai abal-abal.

“Ada puluhan ribu penduduk, nama sama, tanggal lahir sama, kota sama, itu jelas abal-abal. Banyak data enggak pantas. Kalau mereka jujur, KPU jujur, profesional, itu bisa dia sisir. Kurangin 3 juta, 5 juta, saya yakin masyarakat Indonesia bersyukur. Tapi mereka tutup telinga, tutup mata, tetap mau ada 16,5 juta daftar pemilih abal-abal,” sesalnya.