Jumhur Hidayat: Jangan Berubah Sikap Karena Sogokan Penguasa

Nasional

NOTULA – Demi menjaga posisi ketidaksetujuan kaum buruh terhadap segala kebijakan yang merugikannya, diperlukan kewaspadaan semua pimpinan buruh terhadap upaya moderasi dari penguasa.

Peringatan itu disampaikan Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Jumhur Hidayat, kepada seluruh pimpinan buruh, melalui keteranga tertulis di Jakarta, Senin (19/9/22).

Imbauan itu, seperti dikutip dari rmol.id, disampaikan Jumhur saat sambutan pada Rakernas FSP Transport Indonesia (FSPTI KSPSI) di Bandung 16-17 September lalu.

Dia mengingatkan, hanya karena menerima bantuan dari penguasa, termasuk BSU (Bantuan Subsidi Upah) akibat kenaikan BBM, atau menerima Sembako murah dan bantuan kegiatan lainnya misalnya, pimpinan buruh jadi lemah dan lupa memperjuangkan tuntutan utamanya.

“Bila hanya gara-gara itu semua pimpinan buruh berubah dan tidak lagi berjuang keras menuntut perubahan kebijakan yang merugikan kaum buruh, itu namanya tersogok, baik disadari atau tidak,” kata Jumhur wanti-wanti.

Mantan aktivis mahasiswa ITB tahun 80-an itu mengingatkan semua pimpinan buruh, silahkan saja berhubungan baik dengan pejabat, seperti dengan gubernur, bupati/walikota, bahkan menteri atau presiden.

“Tapi jangan berubah sikap, dan harus tetap menuntut agenda utama kaum buruh, yaitu cabut UU Omnibus Law Cipta Kerja yang telah menjadi monster bagi kaum buruh Indonesia,” katanya.

Jumhur juga membeberkan bahwa sudah banyak pimpinan buruh yang disogok penguasa, sehingga tidak lagi militan memperjuangkan nasib anggotanya.

“Kalau demo atau unjuk rasa hanya sekedar tampil dengan jumlah massa ala kadarnya bagai karnaval dan setelah mejeng sejam dua jam terus pulang, itu namanya demo sekadar menggugurkan kewajiban,” pungkasnya.