Januari, Tim WHO Terbang ke China, Selidiki Asal-usul Virus Corona

Kesehatan

NOTULA – Menurut rencana, tim dari WHO (Badan Kesehetan Dunia), terbang ke China, Januari mendatang, mencari tahu asal-usul virus Corona. Kepergian mereka tidak untuk mencari pihak yang salah, tetapi murni untuk menyelidiki asal-usul Covid-19.

Tim bakal langsung menuju ke Kota Wuhan, tempat kasus pertama virus Corona terdeteksi 12 bulan lalu, yang hingga kini masih berlangsung di seluruh dunia dan menyebabkan krisis kesehatan serta ekonomi global yang dahsyat.

“Sejauh ini pertemuan kami lakukan dengan kolega dari China benar-benar produktif dan sangat bagus,” tutur Fabian Leendertz, dari Robert Koch Institute, badan pengendalian penyakit pusat Jerman, seperti dikutip RMOL.id dari AFP, Rabu (23/12/20).

“Kesan saya, saat ini orang Tionghoa -yang berada di pemerintahan, juga pada tingkat populasi- mereka benar-benar tertarik mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” lanjutnya.

Leendertz (48), merupakan pakar zoonosis, dia termasuk di antara 10 ilmuwan terkemuka yang ditugaskan WHO untuk mencoba menemukan asal-usul virus Corona baru dan mencari tahu bagaimana virus itu berpindah dari hewan ke manusia.

Setahun setelah cluster pertama terdeteksi di Wuhan, mereka akan melakukan perjalanan ke China untuk pertama kalinya, dalam misi yang diperkirakan berlangsung antara lima hingga enam minggu -dua minggu yang pertama akan dihabiskan di tempat karantina.

Kesepuluh ilmuwan itu akan didampingi Peter Ben Embarek, pakar keamanan pangan dan zoonosis WHO. “Jadi ini bukan tentang menemukan negara yang bersalah atau otoritas yang bersalah,” kata Leendertz.

“Tapi tentang memahami apa yang terjadi, untuk menghindari hal itu di masa depan, untuk mengurangi risiko,” jelasnya, sembari mengatakan bahwa virus berpindah dari hewan ke manusia setiap tahun, di seluruh dunia.

“Sungguh sial, ini virus yang sangat buruk. Kami memulai di Wuhan, karena di sinilah data pertama yang paling solid tersedia,” kata Leendertz, ilmuwan terkemuka Jerman itu.

“Dari sana kami mengikuti jejak ke mana pun mereka membawa kami,” lanjutnya, sembari menambahkan, semua jalan tetap terbuka dalam hal analisis ilmiah.

DIjelaskan juga, seorang ahli epidemiologi dan spesialis kesehatan hewan dari WHO pergi ke China pada Juli lalu, dalam misi pemeriksaan untuk meletakkan dasar bagi penyelidikan internasional yang lebih luas.

Sejak akhir Oktober, 10 ahli telah mengadakan pertemuan virtual rutin dengan ilmuwan China yang bekerja di bidang yang sama.

Leendertz memperingatkan, “kita tidak boleh berharap bahwa setelah kunjungan pertama ke China sekitar bulan Januari, tim akan kembali dengan hasil yang meyakinkan”.

Namun, dia berharap tim itu akan kembali dari China dengan “rencana konkret” untuk penyelidikan tahap dua, yang akan melihat apa lagi yang diperlukan untuk menunjukkan dengan tepat peristiwa penularan di mana virus berpindah dari hewan ke manusia.

Para ilmuwan umumnya percaya bahwa kelelawar adalah spesies inang asli dari virus, hewan perantara antara kelelawar dan manusia belum diketahui.

Leendertz juga mengatakan, tim akan “kembali ke masa lalu” dengan memeriksa berbagai swab manusia yang disimpan otoritas China, dan koleksi serum dari donor darah untuk melihat apakah orang telah terpapar virus sebelum cluster pertama dicatat pada Desember 2019.

Pendekatan lain adalah menentukan peran yang dimainkan oleh pasar basah Wuhan, tempat hewan-hewan eksotik dijual dan diperjualbelikan.

Tapi dia mengatakan jawaban untuk semua pertanyaan mungkin membutuhkan waktu. Sementara itu, dia berharap misi tersebut bisa dijauhkan dari urusan politik.

Seperti diketahui, selama ini, Presiden AS Donald Trump menuduh China menutupi wabah awal, dan mencap WHO sebagai boneka Beijing.