NOTULA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK meyakini Menpora Imam Nahrawi terlibat kasus suap dana hibah Kemenpora kepada KONI. Hal itu terungkap saat pembacaan tuntutan Sekjen KONI, Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI, Johny E Awuy.

Jaksa KPK juga menyebut ada permufakatan jahat yang dilakukan Imam Nahrowi bersama asistennya, Miftahul Ulum, dan staf protokoler Kemenpora, Arief Susanto, agar mengkaburkan peristiwa hukum yang sedang berjalan.

“Keterkaitan antara bukti satu dengan lainnya menunjukkan adanya bukti dan fakta hukum tentang keikutsertaan para saksi dalam satu kejadian yang termasuk ke dalam kemufakatan jahat yang dilakukan secara diam-diam atau dikenal dengan istilah sukzessive mittaterscraft,” tutur Jaksa Ronald Worotikan, saat membacakan tuntutan Ending dan Johny, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (9/5).

Sebelumnya, seperti dikutip dari rmol.co, Jaksa mengungkap adanya pemberian uang total Rp 11,5 miliar dari Fuad dan Johny kepada Ulum dalam beberapa tahap pemberian.

Pada Februari 2018, Fuad menyerahkan uang Rp 500 juta kepada Ulum di Gedung KONI. Pada Maret 2018, Fuad atas sepengetahuan Johny menyerahkan Rp 2 miliar kepada Ulum di Gedung KONI lantai 12.

Pada Mei 2018, Fuad menyerahkan Rp 3 miliar kepada Ulum di Gedung KONI Pusat, dan pada Juni 2018, Johny menyerahkan uang Rp 3 miliar kepada orang suruhan Ulum bernama Arief.

Kemudian, tepat sebelum Lebaran 2018, Fuad juga menyerahkan uang dalam bentuk mata uang asing kepada Ulum, di lapangan tenis Kantor Kemenpora.

Jaksa juga mengungkapkan ada pemberian uang kepada Ulum sebesar Rp 50 juta dari Fuad dan Johny. Pemberian itu dilakukan saat Ulum dan Imam Nahrowi berada di Jeddah, dalam rangka diundang Federasi Paralayang dan umrah.

Saat dalam persidangan, Ulum dan Arief membantah telah menerima sejumlah uang yang telah dibeberkan Jaksa. Namun bantahan keduanya, juga Imam Nahrawi, dinilai sebagai upaya pembelaan diri semata. Jaksa berkeyakinan keterangan saksi tidak dapat berdiri tunggal.

“Terkait bantahan dari para saksi, menurut pendapat kami harus dikesampingkan, dengan alasan, selain keterangan saksi hanya berdiri sendiri, juga tidak didukung alat bukti sah lainnya. Bantahan itu hanya usaha pembelaan pribadi para saksi agar tidak terjerat perkara ini,” beber Jaksa Ronald.

Fuad dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan dan Johny dituntut 2 tahun dan denda Rp 100 tahun subsider 3 bulan kurungan. Sementara Imam Nahrowi masih berstatus saksi dalam kasus ini.

Fuad dan Johny diyakini telah melakukan tindak pidana korupsi dengan menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemenpora, Adhi Purnomo, dan staf Kemenpora Eko Triyanto.

Nominal suap kepada Mulyana berupa uang sebesar Rp 300 juta, kartu ATM berisi saldo Rp 100 juta, mobil Fortuner hitam metalik nopol B-1749-ZJB, dan satu handphone Samsung Galaxy Note 9. Sedangkan kepada Adhi dan Ekto, Ending dan Johny memberikan suap berupa uang sebesar Rp 215 juta.