Isu Resafel, Lima Menteri Diusulkan Diganti

Nasional

NOTULA – Isu resafel cabinet mengemuka, namun tahu kapan Presiden Joko Widodo melakukannya. Yang pasti, resafel di depan mata, karena DPR menyetujui usulan penggabungan Kemendikbud dan Kemenristek, termasuk menyetujui pembentukan Kementerian Investasi.

“Yang pasti resafel menjadi kebutuhan. Kebutuhan untuk presiden dan pemerintah,” kata Ketua Umum Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer, Sabtu (10/4/21).

Soal siapa saja yang bakal diresafel, Immanuel mengaku belum tahu pasti. Menurut pandangan relawan, ada lima menteri atau setingkat menteri yang harus segera dicopot.

“Memang itu hak proregatif presiden. Yang jelas, menteri atau setingkat menteri yang tidak perform, yang tidak bekerja bagus (yang dicopot),” imbuhnya, seperti dikutip dari rmol.id.

Hingga kini, lanjut Immanuel, ada lima menteri atau setingkat menteri yang layak dicopot, yakni Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, dan Mendikbud Nadiem Makarim.

Pratikno dinilai kerap salah dan tidak jeli. Misalnya kesalahan ketik pada UU 11/2020 tentang Cipta Kerja, dan ketidaktelitian dalam membuat peraturan presiden terkait investasi miras.

“Soal tiga tahun tidak impor beras, juga salah. Data yang diserahkan Pratikno kepada presiden tidak akurat. Buktinya, kita impor besar-besaran 2018 dan 2019. Bahkan 2021 juga ada beras yang masuk,” tuturnya.

Begitu juga dengan Lutfi dan Syahrul, dinilai sama. Sama-sama buat polemic, karena tidak bisa menghentikan impor beras. Mereka tidak bisa menjaga stabilitas pangan di dalam negeri. Kebijakan antar kementerian juga kerap tak sejalan.

“Khusus Mentan, sampai saat ini dia belum bisa menjawab berbagai permasalahan terkait pupuk,” ujar Immanuel.

“Nah kalau soal Jaksa Agung, banyak datanya (alasan pencopotan), nanti saya kasih. Yang jelas sampai sekarang mafia hukum gila-gilaan,” sambung dia.

Menyoal Nadiem Makarim, meski tidak terlau menyoroti, Immanuel tidak melihat ada terobosan “mas menteri” dalam duania pendidikan.

“Performance anjlok. Belum ada terobosan berbasis digital di dunia pendidikan. Dia sebenarnya kan diharapkan untuk itu. Jangan disamakan bisnis GoJek dengan menata pendidikan,” pungkasnya.