Insiden Kafe Cengkareng, Gde Siriana Khawatir Polisi Jadi Musuh Bersama Masyarakat

Nasional

NOTULA – Kepolisian kembali disorot masyarakat, menyusul insiden penembakan oleh oknum personel Polres Kalideres, Bripka CS, yang menembak mati 3 orang di sebuah kafe di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (25/2/21) dini hari.

Seperti diketahui, ketiga korban meninggal adalah S (anggota TNI AD/keamanan RM kafe), FSS (waiters), dan M (kasir). Sedangkan korban luka H (Manajer cafe).

“Polisi tidak boleh menggunakan senpi (senjata api) semau gue. Ada aturan penggunaan sesuai Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian,” jelas Gde Siriana Yusuf, seperti dikutip dari RMOL.id, Kamis (25/2/21).

“Dan Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia,” tambahnya.

Karenanya, Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS) itu mendesak Kapolri membenahi anggotanya yang doyan bergaya koboi jalanan. Karena peristiwa seperti ini bukan baru sekali terjadi.

Termasuk, lanjut Gde Siriana, peristiwa besar di KM50 Tol Jakarta-Cikampek, yang hingga kini belum tuntas hingga pengadilan.

Meskipun itu dilakukan oknum, sambung dia, masyarakat tetap saja bisa mengambil kesimpulan bahwa ini merupakan fenomena arogansi kepolisian sebagai suatu institusi, bukan selaku individu.

“Jika sudah makan korban, bahkan bukan hanya warga sipil, tapi juga anggota TNI, saya khawatir polisi akan jadi musuh bersama di masyarakat,” pungkas Gde Siriana.