NOTULA – Ada tradisi menarik dari korps Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang, terutama bila ada personelnya yang melangsungkan pernikahan. Seremoni yang digelar begitu sarat dengan pesan tentang perlunya esprit de corps (loyalitas dan kebanggaan dan kebersamaan pada kesatuan).

Salah satunya sama seperti bila ada perwira TNI atau Polri melangsungkan pernikahan, selalu ada prosesi pedang pora, yakni mempelai berjalan melintas di bawah formasi pedang rekan-rekan sesama TNI dan Polri.

Nah, untuk anggota Damkar juga ada nosel pora. Nosel adalah salah satu instrument penting penyemprot air, yakni ujung pipa untuk memadamkan api. Maka, mempelai pun melintas di bawah nosel yang dibawa para personel Damkar dengan formasi seperti pintu gerbang, sebagai simbol mempelai memasuki gerbang (babak baru) kehidupan, dan diterima sebagai keluarga besar.

Yang tak kalah menarik, mempelai diarak menggunakan mobil pemadam kebakaran kuno peninggalan zaman Belanda. Diikuti sejumlah mobil Damkar lengkap dengan pasukan Damkar, mereka keliling Kota Malang, menebar kebahagiaan bersama warga kota.

Itulah pemandangan yang menghiasi Kota Malang, Sabtu (8/12), pada saat salah satu personel Damkar, Ferry melangsungkan pernikahan. Tentu saja pemandangan unik itu begitu menarik perhatian masyarakat luas, termasuk sejumlah turis asing (bule) yang kebetulan melintas. Serta merta mereka mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan obyek menarik itu.

Sejak siang hari memang ada yang berbeda di markas Damkar Kota Malang. Semua personel tampak sibuk, meski tidak ada pengaduan kebakaran dari masyarakat.

Semua berseragam operasional lengkap, termasuk berbagai peralatan yang layaknya digunakan untuk melumpuhkan si jago merah.

Memang begitulah tradisi mereka bila ada salah satu personelnya melangsungkan pernikahan. Mereka menjemput mempelai dan selanjutnya dibawa ke markas, sebagai simbol diterimanya mempelai putri, Izati Farunia, sebagai keluarga besar korps Damkar Kota Malang.

Setelah persiapan tuntas, 3 truk Damkar pun bergerak meninggalkan markas. Yang menarik, dua kendaraan diantaranya merupakan truk Damkar kuno peninggalan Belanda. Masyarakat kerap menyebutnya ‘branweer’.

Mereka berjalan beriringan. Dan tentu saja bunyi sirine khas Damkar ikut mengiringi, membuka jalan menuju rumah mempelai wanita.

Begitu tiba di rumah pengantin wanita, kedua mempelai langsung dijemput. Setelah melalui prosesi penghormatan sederhana dan singkat, keduanya pun dinaikkan ke mobil Damkar terbuka, sekaligus symbol diterimanya pengantin wanita sebagai keluarga besar Damkar Kota Malang.

Maka, mulailah prosesi pertama. Pasangan pengantin itu diarak keliling kota, dikawal barisan personel dan mobil Damkar kuno, mengelilingi jalan-jalan protokol.

Bagi masyarakat, tentu ini pemandangan unik yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya, di luar kebiasaan. Serta merta masyarakat pun begitu larut, bangga, haru, dan mereka pun melempar senyum sembari melambaikan tangannya.

Beberapa di antaranya bahkan serta merta merogoh tas atau sakunya, mengeluarkan kamera, lalu mengabadikan pemandangan langka yang jarang-jarang mereka jumpai itu.

Tak terasa, satu jam lebih iring-iringan pengantin Damkar yang jelas menjadi hiburan tersendiri bagi warga kota itu melintasi jalanan Kota Malang, hingga akhirnya sampai di Markas Damkar.

Begitu rombongan tiba, para personel Damkar langsung membentuk barisan berhadap-hadapan sembari membawa berbagai perlengkapan pemadam kebakaran, mulai Nosel hingga kapak pendobrak pintu.

Prosesi selanjutnya pun dimulai. Pengantin pria yang anggota Damkar itu dihormati dengan nosel pora. Suasana pun tiba-tiba menjadi khidmat, sakral, dan di sinilah esprit de corps itu begitu terasa. Rasa kebanggaan sebagai anggota Kops Damkar yang mengabdi untuk keselamatan masyarakat.

Setelah prosesi nosel pora usai, kedua mempelai pun duduk di kursi pelaminan yang sudah disediakan, selanjutnya menerima ucapan selamat dari tamu dan undangan. Wajah sumringah tanda bahagia pun begitu terasa di wajah mempelai.

Usai acara, mempelai wanita, Izati Farunia, mengatakan, sebenarnya dia sudah tau prosesinya memang bakal seru. “Sudah tahu sih, bakalan begini kalau jadi pengantin anggota Damkar, seru, unik, greget, malu-malu tapi seneng,” sergahnya sembari senyum.

Sedang si mempelai pria justru mengaku gugup, meski seneng dan bangga juga. “Kalau keliling seperti ini baru pertama kali ya, seneng sih, cuman gugup aja,” tuturnya.

Sebenarnya prosesi seperti itu sudah menjadi kebiasaan bagi Korps Damkar Kota Malang, bila ada anggotanya yang menikah. Tentu itu bukan hal sepele, bahkan sangat penting bagi anggota, tak sekadar kebanggaan, tapi juga wujud kebersamaan dan pada akhirnya akan menjadi motivasi agar anggota lebih giat mengabdi kepada masyarakat. Tugas-tuga mereka begitu mulia.

Sementara itu komandan Damkar Kota Malang, Jose Belo, mengatakan, “Seremoni seperti ini sebagai bentuk perhatian kepada anggota. Mungkin kecil, tapi sangat penting, untuk membangkitkan rasa kebersamaan. Kami juga mencoba membangkitkan noselpora dan Iring-iringan keliling kota tadi,” katanya.

Yang pasti, Damkar Kota Malang kini sudah berkembang, tak hanya memadamkan api, bahkan markasnya sudah menjadi wahana wisata Museum Damkar, dalam rangka mendekatkan masyarakat dengan korps Damkar. “Jadi tidak hanya saat terjadi keakaran saja,” pungkas Jose Belo.