NOTULA – Perkembangan politik nasional usai pemilihan umum (Pemilu) serentak 17 April 2019 lalu menjadi sorotan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Institusi itu menilai, situasi saat ini mencerminkan kemerosotan kualitas demokrasi di Indonesia.

Pernyataan itu tertuang dalam Maklumat Kebangsaan ICMI, menanggapi dinamika kehidupan politik bangsa pasca Pemilu 2019. Maklumat bertanggal 22 April itu ditandatangani Ketum ICMI, Jimly Asshiddiqie dan Sekjen ICMI, Mohammad Jafar Hafsah.

“ICMI prihatin atas perkembangan politik bangsa saat ini, yang mengindikasikan terjadinya kemerosotan kualitas demokrasi, sehingga menjadi kendala bagi berlangsungnya proses konsolidasi demokrasi,” tulis ICMI, dalam Maklumat Kebangsaannya.

Selain itu, ICMI juga menilai, kemerosotan itu membuat rakyat kehilangan kepercayaan pada demokrasi yang semestinya merepresentasikan kedaulatan rakyat dalam mewujudkan kesejahteraan.

Disebutkan juga, Pemilu seharusnya menjadi wujud pelaksanaan demokrasi secara jujur, adil, langsung, umum, bebas, rahasia, aman dan damai. Sehingga kekuasaan yang dihasilkan tidak diraih dengan menghalalkan segala cara.

Pada Maklumat itu, ICMI juga mengingatkan aparatur negara untuk melaksanakan tahapan Pemilu sesuai kaidah demokrasi. Selain juga berharap Pemilu 17 April menghasilkan presiden dan wakil presidenan yang berlegitimasi, dan mampu mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, beradab dan bermartabat.

Seperti di kutip dari rmol.co, kepada semua elite politik, ICMI menyerukan agar membangun budaya demokrasi yang adil dan beradab demngan mengedepankan etika politik dan kepentingan bangsa serta negara.

Demi menciptakan ketenangan, ICMI meminta seluruh komponen bangsa agar menunggu hasil perhitungan resmi KPU RI, serta menghormati berbagai tahapan yang sesuai ketentuan.