Hendardi: Aktor Utama Rusuh 22 Mei Ada Dua Kemungkinan

NOTULA – Ketua Setara Institut, Hendardi, berpendapat, skenario terbesar di balik kerusuhan 22 Mei (225) lalu adalah memaksakan kemenangan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang kalah dalam hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Menurut dia, ada dua saluran utama yang dilakukan. Pertama, pseudo-yuridis, memaksakan kehendak kepada Bawaslu untuk mendiskualifikasi Joko Widodo-Maruf Amin. “Itulah mengapa tekanan yang mereka berikan sebagian besar melalui Bawaslu,” jelasnya, dalam keterangan tertulis, Rabu (29/5).

Jalan kedua, melalui politik jalanan dan inkonstitusional. Dalam hal ini, ada kelompok yang memaksakan tindakan rusuh dengan harapan akan melahirkan efek domino politik.

“Jadi ada martir yang dikorbankan, harapannya memicu instabilitas politik skala besar, dan presiden diharapkan tidak bisa mengendalikan situasi,” katanya.

Lalu siapa aktor utamanya? Hendardi menyebut ada dua kemungkinan, pensiunan tentara dan jaringan kelompok radikal.

Keduanya pada dasarnya merupakan simpatisan dan pendukung yang menunggangi pasangan Prabowo-Sandi untuk kepentingan politik mereka masing-masing.

“Kalau preman-preman bayaran itu pion saja, hanya dipakai untuk kepentingan mereka,” sambung Hendardi, seperti dikutip dari rmol.co.

Sementara narasi dan tujuan politik yang dibangun tidak akan berubah, meski kini Prabowo-Sandi telah mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Hendardi memprediksi rusuh akan kembali terjadi saat MK memberi putusan atas gugatan itu.

Hendardi juga menilai, tidak ada yang bisa menghentikan aksi kelompok ini. Sebab mereka sudah memiliki agenda yang berbeda dan saling menunggangi.

“Prabowo juga tidak. Di tengah-tengah kelompok itu, Prabowo bukan solidarity maker. Dia figur elite yang sesungguhnya ‘dipionkan’ sebagai simbol bagi mereka, bahwa ini seakan-akan kontestasi elektoral dalam kerangka demokrasi,” pungkasnya.