Hadi Tjahjanto Dinilai Kurang Memahami Tugas Panglima TNI

Nasional

NOTULA – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dinilai kurang memberikan perhatian khusus terhadap insiden pembantaian pekerja di Nduga, Papua, dan perusakan Polsek Ciracas, Jakarta Timur.

Kritikan itu disampaikan Mantan Komandan Korps Marinir, Letjen TNI Mar (Purn) Suharto kepada wartawan, Minggu (16/12).

Suharto bahkan menyebut Hadi tidak peduli dengan kedaulatan bangsa, karena justru pergi ke Amerika Serikat di saat belum tuntasnya dua insiden itu.

“Kalau sudah masalah kedaulatan, Panglima TNI harus turun tangan. Panglima TNI harus segera pulang ke Tanah Air, acara di Amerika bisa diwakilkan,” tegas dia.

Menurut Suharto, seorang pimpinan TNI harus selalu berada di tempat yang paling rawan. Dengan begitu, pimpinan itu bisa memberikan perintah yang benar dan tepat.

“Itulah fungsi pimpinan. Makanya, yang kita butuhkan dari seorang pimpinan itu, orang-orang yang pengalaman di lapangan. Sehingga dia tahu jiwa-jiwa prajurit seperti apa,” ujarnya.

Walaupun telah menjabat sebagai Panglima TNI selama lebih dari setahun, Suharto menilai reaksi Hadi biasa saja terhadap dua insiden itu, lantaran dia memang bukan seorang pimpinan yang punya pengalaman di lapangan.

Sehingga, seperti dikutip dari rmol.co, kurang memahami tugas pokok dan fungsi untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Terkait insiden pembantaian pekerja di Papua, Suharto menegaskan, itu permasalahan kedaulatan. Maka, TNI yang harus turun tangan untuk mengejar seluruh anggota kelompok itu, bukan kepolisian.

“Itu sudah makar, itu perlawanan bersenjata. Artinya, perlawanan terhadap kedaulatan, itu sudah tugas TNI. Jadi jangan dipolisi-polisikan. Saya tahu, senjata yang dibawa itu standar NATO, berarti ada keterlibatan kekuatan asing. Hajar saja, lumatkan,” pungkasnya.