NOTULA – Kasus penembakan dan pemukulan brutal yang dialami para peserta aksi 22 Mei di kawasan kantor pusat Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jakarta, tidak boleh didiamkan.

“Penembakan-penembakan brutal kepada peserta aksi itu harus diusut tuntas. Tak ada cerita pembenaran yang harus dijadikan alasan untuk membunuhi warga negara Indonesia dalam aksi itu,” tegas aktivis senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ivan Parapat, dalam keterangannya, Kamis (23/5).

Dia melihat ada upaya sistematis mengusir dan menghentikan para demonstran yang hendak menyampaikan aspirasinya.

Bahkan pesan-pesan berantai marak terjadi dari versi-versi aparat, untuk menutupi kebenaran sesungguhnya. Selain itu, jaringan internet dan media sosial ditutup, dengan alasan untuk menghindari potensi rusuh.

“Apa maksudnya jaringan internel diputus? Apa maksudnya pesan-pesan berantai disebar-sebarkan? Itu tidak bisa dibenarkan. Itu tindakan-tindakan yang melanggar hak asasi manusia dan pelanggaran hak-hak warga negara. Ini sudah seperti skenario yang sangat disengaja, jadi harus diusut tuntas,” tuturnya.

Selain itu, seperti dikutip dari rmol.co, Bawaslu yang merupakan institusi yang didemo juga harus diusut tuntas.

“Jadi Bawaslu tak boleh berpangku tangan. Mereka jangan sampai menjadi bagian dari skenario pelanggaran. Apalagi aksi masyarakat yang terjadi masih dalam tahapan proses Pemilu dan pasca Pemilu, maka Bawaslu harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Ivan juga menyerukan agar Badan HAM Internasional segera turun tangan mengusut pelanggaran HAM berat itu. Soalnya aparat Indonesia dan pemerintahan saat ini dinilai dia sudah tidak transparan.

“Enggak mungkin akan diusut aparat yang di sini. Sebaiknya Badan PBB urusan HAM Internasional saja yang segera turun tangan melakukan pengusutan. Ini sudah kategori pelanggaran HAM berat,” tandasnya.