Generasi Milenial Harus Jeli Membaca dan Memanfaatkan Bonus Demografi

Malang Raya

NOTULA – Pemuda merupakan agen perubahan yang bergerak sedekat mungkin dengan dunia kekinian, membawa ide-ide yang out of the box, hingga kelak menjadi pemimpin yang mampu mentransformasikan dunia ke arah yang lebih baik.

Demikian diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat MM, di hadapan forum Pemilihan Putra Putri Brawijaya 2020, melalui koneksi zoom, Sabtu (14/11/20).

“Generasi milenial lahir pada 1980-2000, di era platform offline, tapi tumbuh dan berkembang pada era serba teknologi (online). Rata-rata generasi milenial memiliki intensitas tinggi dalam berinteraksi dan berekspresi di bidang digital, seperti sosial media dan internet,” katanya.

Berdasar data BPS (Badan Pusat Statistik), pada kisaran 2020-2030 komposisi penduduk Indonesia mengalami perubahan, usia produktif (umur 15-64 tahun) lebih banyak dibanding non produktif (0-14 tahun dan diatas 65 tahun).

Kondisi ini, jelas Wahyu, menguntungkan Indonesia dalam konteks meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi barang dan jasa, serta tren menurunnya angka ketergantungan.

“Ini yang dinamakan bonus demografi atau devidence demographic, yang menggambarkan tingginya angka usia produktif di atas 50% dibanding usia non produktif. Indonesia diuntungkan kondisi itu, karena mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan PDB negara,” rincinya.

Sejumlah negara sukses memanfaatkan bonus demografi dengan meningkatnya PDB. Seperti Jepang, Singapore, Hongkong dan Korea.

“Pemerintah mereka menyiapkan lapangan kerja dan peningkatan kualitas SDM sebagai modal utama proses pembangunan. Hasilnya, negara-negara itu masuk 5 besar rujukan perekonomian dunia, dengan indeks kemudahan berbisnis versi WorldBank,” tegasnya.

Menyoal peran milenial menghadapi bonus demografi, Wahyu memprediksi, generasi ini Ketika itu berumur 30-40 tahun, memiliki posisi strategis dalam melihat peluang-peluang menghadapi kesenjangan angkatan kerja porduktif dan non produktif.

Mengingat generasi ini memiliki karakteristik kreatif dan inovatif dan idientik dengan teknologi dan entrepreneurship, mereka diharapkan mampu berkontribusi menciptakan lapangan pekerjaan bagi usia angkatan kerja lainnya.

Generasi milenial, sambung Wahyu lagi, harus memahami 3 poin penting. Pertama, meningkatkan kualitas kompetensi, pendidikan dan penguasaan teknologi, mengingat tingginya persaingan usia produktif pada 2020-2030.

“Yang tidak mampu meningkatkan kualitas kompetensi dan penguasaan teknologi akan kalah dan terancam tidak mampu bersaing,” Wahyu mengingatkan.

Kedua, generasi ini harus mampu berkreasi dan berinovasi menciptakan ketersedian lapangan kerja (entrepreneurship) dengan melihat peluang dan berani mengambil risiko yang dihadapi.

Ketiga, peran milenial memanfaatkan bonus demografi ibarat pisau bermata dua. “Kegagalan menghadapi tantangan daya saing ekonomi global mengakibatkan terhambatnya produktivitas, lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan jika tidak bisa bertahan, stabilitas ekonomi sosial pasti terganggu.

“Pada gilirannya, pengangguran besar akan berbuntut pada tingginya kriminalitas pada 2020-2030 nanti,” katanya.

Pada kesempatan itu, Wahyu juga memaparkan rencana program kepemudaan 2021 di lingkungan Pemkab Malang, masalah kepemudaan, termasuk prestasi-prestasi yang berhasil diraih para pemuda dari Kabupaten Malang.