Gatot: Syahganda Cs Tolak Penangguhan Penahanan

Nasional

NOTULA – Sikap pejuang sejati ditunjukkan para aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Syahganda Nainggolan, Anton Permana, dan Jumhur Hidayat. Mereka menolak upaya penangguhan penahanan.

Pernyataan itu disampaikan Presidium KAMI, Gatot Nurmantyo, saat memberikan sambutan di acara peluncuran dan bedah buku ‘Pemikiran Sang Revolusioner Dr Syahganda Nainggoan’, di Sekretariat KAMI, Jalan Kusuma Atmadja Residence Nomor 76, Jumat (27/11).

“Sebenarnya saya secara pribadi siap menjadi penjamin, namun upaya penangguhan penahanan justru ditolak Syahdanga, Anton, dan Jumhur. Ketiganya kompak menolak. Ini yang membuat kami salut,” tegasnya.  

Menurut dia, alasan penolakan itu karena ada syarat yang tidak bisa diterima Syahganda cs.

Sedikitnya ada tiga syarat penangguhan penahanan, pertama tidak akan melarikan diri. Kedua, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan ketiga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama.

“Syarat ketiga itu yang mereka tolak,” jelas Gatot, seperti dikutip dari RMOL.id.

Bagi mereka, apa yang sudah dilakukan, yang dituduhkan melanggar UU, diyakini dalam rangka kebenaran.

Syahganda cs, menurut mantan Panglima TNI itu, merasa lebih baik dipenjara ketimbang dilarang menyuarakan kebenaran.

Peluncuran buku itu juga menandakan bahwa idealisme dan pemikiran Syahganda tidak akan luntur meski di penjara.

“Masih di penjara, tapi buku diluncurkan. Ini salah satu bukti bahwa perjuangan tidak bisa dipadamkan. Semakin ditekan, semakin menjadi-jadi,” jelas Gatot.

Pada kesempatan itu Gatot juga mengucapkan selamat kepada Syahganda atas peluncuran buku tersebut.

“Perjuangan belum selesai, ini baru dimulai. Saya sampaikan perjuangan yang dimulai dengan niat karena Allah SWT, tidak akan bisa dihentikan oleh manusia,” jelasnya.

Buku ini, kata Gatot, juga bukti bahwa Syahganda sosok aktivis yang pemikir, atau inetelektual aktivis. Hal senada juga disampaikan Din Syamsuddin dalam sambutan secara virtual via aplikasi zoom.

“Syahganda itu intelektual sejati. Intelektualisme bukan sekadar intelektual, tapi juga dilaksanakan dalam aksi nyata,” jelas Din.