Febri: Relevan, Pemberian Grasi pada Pembunuh Wartawan Diprotes

Nasional

NOTULA – Protes terhadap keputusan Presiden Joko Widodo yang memberikan grasi kepada otak pembunuh wartawan, I Nyoman Susrama, dinilai relevan.

Pernyataan itu disampaikan Jurubicara KPK, Febri Diansyah, di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (28/1).

“Kami pandang keberatan tersebut relevan ya. Kerja jurnalis itu kan memang kerja yang penuh risiko,” ujarnya.

Susrama merupakan terpidana yang menjadi otak pembunuhan berencana atas AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, wartawan Radar Bali yang kerap menulis kasus korupsi.

Kematian Bagus diduga berkaitan dengan dugaan korupsi yang dilakukan Nyoman Susrama, terkait proyek-proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli sejak awal Desember 2008 hingga Januari 2009.

Susrama divonis penjara seumur hidup. Dengan grasi yang dikeluarkan Presiden Jokowi, hukumannya berubah menjadi 20 tahun penjara.

Menurut Febri, di samping penuh risiko, profesi wartawan seperti Bagus Narendra juga berani mengungkap adanya praktik korupsi, walau dia tahu akibat yang akan diterimanya.

Febri juga menggarisbawahi bahwa risiko pemberantasan korupsi juga mengintai aktivis anti korupsi dan aparat penegak hukum.

“Pada isu antikorupsi itu serangan-serangan terjadi pada jurnalis, pada pegiat antikorupsi, masyarakat sipil dan juga penegak hukum. Termasuk kita tahu kemarin Novel (penyidik KPK, Novel Baswedan),” tukasnya, seperti dikutip dari rmol.