NOTULA – Setelah melampaui waktu 24 jam, penyidik Subdit Kamneg Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya resmi menahan tersangka kasus dugaan makar, Eggi Sudjana, hingga 20 hari ke depan.

Penahanan dilakukan setelah menjalani pemeriksaan pada Selasa (14/5) sekitar pukul 23:00 WIB. Namun Eggi mengaku tidak menandatangani atau menolak untuk ditahan karena beberapa alasan.

“Insya Allah saya warganegara Indonesia yang taat hukum, PMJ (Polda Metro Jaya) telah menetapkan saya sebagai tahanan untuk 20 hari ke depan, tapi saya tidak menandatangani atau saya menolak ditahan begitu,” ucap Eggi kepada awak media, usai dipemeriksa di Mapolda Metro Jaya, Selasa (14/5) malam.

Meski menolak, Eggi mengaku pihak kepolisian memiliki kewenangan untuk menahan dirinya. Namun dia juga mengingatkan bahwa dirinya sebagai advokat juga memiliki kewenangan.

“Pihak kepolisian juga punya kewenangan, ya kita ikuti kewenangannya. Saya juga punya kewenangan sebagai advokat dan kita sesuai dengan profesional modern dan terpercaya. Saya ikuti prosesnya, semoga Allah ridho kepada kita,” katanya.

Usai memberikan keterangan kepada awak media, Eggi yang menggunakan peci hitam dan kaos warna hitam merah langsung masuk ke dalam Rumah Tahanan Polda Metro Jaya.

Sebelumnya Eddi juga menjelaskan, sebagai seorang advokat dirinya tak bisa dipidana maupun digugat, sebagaimana diatur di undang-undang nomor 18 Tahun 2003 Pasal 16.

“Advokat tidak dapat dipidana atau digugat, baik di dalam maupun di luar sidang. Itu keputusan Mahkamah Konstitusi nomor 26 Tahun 2014,” papar Eggi.

Selain itu dia juga telah melakukan upaya hukum praperadilan sehingga menurutnya polisi harus menunggu hasil praperadilan itu.

“Soal praperadilan, saya sudah ajukan minggu lalu. Mestinya diproses dulu. Berkaitan dengan gelar perkara, gelar perkara harusnya dilakukan sesuai Perkap Kapolri Nomor 14 Tahun 2018, kurang-lebih itulah. Tapi di sisi lain pihak kepolisian juga punya kewenangan, kita ikuti kewenangannya,” katanya.

Dia berharap mendapatkan keadilan dalam menjalani proses hukum yang menimpa dirinya sebagai tersangka kasus dugaan makar.