Driver Jeep Bromo dan Penambang Pasir Babakan Terima Bantuan Bupati Sanusi

Malang Raya

NOTULA – Bupati Malang, Drs HM Sanusi MM, kembali menggelar bakti sosial bagi masyarakat terdampak Covid-19. Kali ini menyasar wilayah Kecamatan Poncokusumo dan Tirtoyudo, Minggu (10/5) pagi.

Abah Sanusi, sapaan akrab bupati, didampingi Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK), Dr Wahyu Hidayat, dan sejumlah pejabat lain, menyalurkan bantuan beras masing-masing 10 kg, khusus untuk Paguyuban Driver Jeep Bromo, di Kantor Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo. Total ada 400 pax.

Sementara untuk kepada perwakilan penambang pasir di Babakan, Pasir Blubuk, Kecamatan Tirtoyudo, sebanyak 50 pax.

Rombongan berangkat dari rumah dinas bupati di Jalan Gede Kota Malang. Bupati didampingi istri, Hj Anis Zaida, langsung bergerak menuju Desa Wringinanom. Sesampai di lokasi, Sanusi secara simbolis menyerahkan bantuan kepada perwakilan anggota Paguyuban Driver Jeep Bromo dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Setelah itu rombongan bergeser menuju Kecamatan Tirtoyudo, kali ini menyerahkan bantuan yang sama kepada para penambang pasir di Babakan, didampingi Camat Tirtoyudo, Rachmad Ichwanul Muslimin.

‘’Hari ini Pemkab Malang memberikan bantuan langsung kepada para sopir jeep dari Paguyuban Driver Jeep Bromo, yang di masa pandemik Covid-19 kegiatannya berhenti, karena wisata Bromo Tengger Semeru ditutup. Demikian juga para penambang pasir di Babakan. Semua lapisan dan kelompok masyarakat diberi bantuan semua di bulan Mei, menyasar 520 ribu KK,” jelas Bupati kepada awak media, usai kegiatan.

Bupati juga menjelaskan, begitu Pembasatan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Malang Raya disetujui Kementerian Kesehatan, maka dalam satu minggu ke depan Pemkab Malang juga harus menyiapkan bantuan kepada masyarakat.

Menurutnya, bantuan itu bakal serentak digelontorkan Pemkab Malang dengan meminta dukungan penuh kepolisian dan TNI. Bantuan akan ini diberikan door to door, alias disalurkan secara langsung dari rumah ke rumah.

‘’Kepala desa segera mendata orang yang bercukupan saja, kemudian dikasih tanda. Kita pakai teori terbalik. Kalau dulu dipetakan siapa saja yang miskin, sekarang dipetakan yang kaya atau cukup. Yang kaya ditandai, tidak mendapat bantuan itu. Pokoknya semua warga kabupaten yang tidak mampu bakal mendapat bantuan,” jelasnya.