NOTULA – Kekerasan yang terjadi pada aksi damai 21, 22, dan 23 Mei lalu mengundang keprihatinan berbagai kalangan, termasuk mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

“Belasan nyawa, termasuk remaja, hilang sia-sia, dan ada yang belum diketahui nasibnya. Ini, tidak bisa tidak, adalah buah dari kekerasan yang mengenaskan yang terjadi pada bulan suci Ramadan,” tuturnya, dalam keterangan tertulis, Rabu (29/5).

Harusnya, kata Din, semua pihak, baik rakyat maupun aparat, dapat melakukan imsak atau pengendalian diri, sebagai esensi ibadah Ramadan.

“Tapinasi telah menjadi bubur. Kekerasan telah menciderai kesucian Ramadan,” sesalnya, seperti dikutip dari rmol.co.

Menurutnya, kekerasan fisik itu akan semakin parah jika berlanjut pada kekerasan verbal dalam bentuk saling menyalahkan. Apalagi dengan saling melempar tuduhan, dengan klaim akan kebenaran secara sepihak.

“Ini awal dari malapetaka kebangsaan. Maka, tiada jalan lain untuk mengatasinya kecuali negara harus hadir menegakkan keadilan dan kebenaran,” sambung Din.

Din tak ingin negara abai dan menjelma menjadi negara kekerasan dengan menampilkan kekerasan negara atau state violence.

“Untuk itu, perlu dilakukan tabayun melalui Tim Pencarian Fakta. Kalau tidak, Tragedi Ramadan 2019 ini akan menjadi lembaran hitam dalam kehidupan kebangsaan kita,” lanjutnya.

“Saatnya keadilan dan kebenaran ditegakkan. Kalau tidak, Allah Yang Maha Adil akan menegakkannya, kalau tidak di dunia, pasti di akhirat kelak,” pungkas Din.