Dilaporkan ke Polisi, Basarah Terancam Empat Tahun Penjara

Nasional

NOTULA – Gara-gara menyebut Presiden kedua RI Soeharto sebagai guru korupsi, Wakil Sekjen PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, dilaporkan ke polisi.

Si pelapor, Rizka Prihandy, mengaku sebagai warga negara yang sangat mengagumi Soeharto, akhirnya mengadukan Basarah ke polisi atas tuduhan telah menimbulkan perasaan permusuhan dan kebencian.

“Kami terpanggil, sebagai loyalis dan pecinta Pak Harto perlu melaporkan ini. Agar menjadi tindakan hukum,” katanya, usai menyampaikan laporan di Mapolda Metro Jaya, Senin (3/12) malam.

Dia memastikan, dirinya murni pengagum mantan penguasa Orde Baru itu dan tergabung dalam Hasta Mahardika Soehartonesia, serta tidak terafiliasi dengan partai politik manapun.

“Kebetulan saya sebagai komandan brigadenya,” katanya, meyakinkan.

Rizka sangat menyayangkan pernyataan Basarah itu. Seolah tidak melihat dan menafikan kinerja yang telah dilakukan Soeharto selama 32 tahun memimpin Indonesia, justru malah kejelekannya yang ditonjolkan.

“Biar bagaimanapun dalam proses perjalanan bangsa ini tidak bisa kita kesampingkan nama Soeharto. Demikian juga kita tidak bisa mengesampingkan nama Soekarno maupun Hatta,” imbuhnya.

Polda Metro Jaya menerima laporan dengan Nomor LP/6606/XII/2018/PMJ/Dit.Reskrimum tertanggal 3 Desember 2018.

Basarah yang juga wakil ketua MPR RI dianggap telah menghina dan atau menyebarkan berita bohong sebagaimana diatur pasal 156 KUHP dan atau pasal 14 junto pasal 15 UU 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.