Bung Karno Butuh 10 Pemuda untuk Guncang Dunia, Kini Cukup 9 Ketum Parpol untuk Berantas Korupsi Politik

Nasional

NOTULA – Sistem politik Tanah Air terlalu transaksional, hingga berujung pada perilaku korupsi. Untuk memulihkannya, harus dimulai dari komitmen seluruh partai politik, khususnya para ketua umum.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Survey and Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara, merespons masih maraknya politisi ditangkap KPK karena kasus korupsi. Menurutnya, praktik rasuah masih terjadi karena proses demokrasi yang ada butuh biaya besar.

“Faktanya, sistem demokrasi yang sudah menjadi ‘the only game in town’, ternyata berjalan beriringan dengan banyaknya kader Parpol terkena OTT KPK pasca terpilih atau menjabat sebagai kepala daerah,” kata Igor, seperti dikutip dari RMOL.id, Kamis (4/3/21).

Dalam hal ini, peran partai politik, khususnya ketua umum partai, penting, karena biaya politik yang tinggi, mulai tahap pencalonan oleh Parpol. Karena itu, Parpol bisa menjadi muara untuk pencegahan korupsi dan politik uang, diinisiasi masing-masing ketua umum.

“Jadi jangan hanya menggalang kekuatan dan pertemuan serta komitmen untuk Pilpres 2024 yang akan datang saja, idealnya para ketum Parpol bisa kompak mendorong perbaikan sistem politik,” harapnya.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah komitmen sembilan Ketum Parpol yang eksis di Senayan, untuk mendeklarasikan pakta integritas bahwa Parpol yang terlibat korupsi diberi sanksi dan didiskualifikasi dari kepesertaan Pemilu.

“Para Ketum Parpol yang lolos ambang batas parlemen harus punya komitmen bersama perlunya revisi UU Parpol, sebagai salah satu pintu masuk mencegah korupsi di sektor politik,” sambungnya.

Atas dasar itu, ia menilai keberadaan sembilan ketua umum Parpol yang eksis di Senayan memiliki peran besar dalam perbaikan sistem politik dalam negeri.

“Dulu Bung Karno (BK) pernah bilang, cukup sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia, sekarang cukup sembilan Ketum Parpol di Senayan untuk mengurangi korupsi politik,” pungkas Igor.