Bukan Perpanjangan Masa Jabatan, Rakyat Butuh Pemimpin Baru yang Solutif

Nasional

NOTULA – Saat ini rakyat Indonesia dihadapkan pada situasi sulit dari segi ekonomi. Sejumlah harga bahan pokok pangan meroket, menyusul bahan bakar minyak yang ikut naik.

Pada bagian lain, wacana penundaan Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan presiden terus didengungkan para elite politik dan pemerintah.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, berpendapat, wacana penundaan Pemilu 2024 bisa membuat pemerintah kehilangan kepercayaan rakyat, terlebih jika terus didengungkan.

“Rakyat semakin menjerit dan sulit dan akan berimbas pada menurunnya kepercayaan rakyat pada pemerintah,” tegas Ujang, seperti dikutip dari rmol.id, Minggu (3/4/22).

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini, penambahan masa jabatan presiden sangat tidak relevan dengan kondisi serba sulit saat ini.

Yang diinginkan rakyat, tambah dia, adalah bergantinya rezim dengan pemerintahan baru yang bisa memberi solusi.

“Sama sekali tak relevan dengan keinginan mereka 3 periode, menunda Pemilu atau memperpanjang masa jabatan presiden. Karena rakyat butuh pemimpin baru yang bisa memberikan solusi atas permasalah-permasalahan yang sedang dihadapi,” ujarnya.

Dampak yang akan terjadi jika ada penundaan Pemilu di tengah situasi sulit saat ini. Tambah dia, adalah resesi ekonomi yang akan membuat rakyat murka terhadap pemerintah.

“Bisa saja terjadi. Jika itu diikuti resesi ekonomi yang dahsyat,” tutupnya.