Bila Penyidik Ada Beban Terget, Kasus Rocky Gerung Bakal Ribet

Nasional

NOTULA – Statemen pengamat politik sekaligus ahli filsafat Rocky Gerung soal ‘kitab suci itu fiksi’ bisa menimbulkan polemik berkepanjangan, bila dimasukkan kategori penistaan agama.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PPP, Humphrey Djemat, yang juga pengacara senior, menanggapi rencana pemeriksaan Rocky terkait dugaan kasus yang membelitnya.

“Ingat kasus BTP alias Ahok,” kata Humphrey saat dihubungi redaksi rmol.co, Sabtu (2/2).

Pada kasus ini dibutuhkan penafsiran dari berbagai ahli disiplin ilmu untuk menentukan masuk kategori penistaan agama atau bukan. Diperlukan ahli agama, ahli bahasa, ahli hukum, juga ahli sosiologi.

Repotnya, menurut Humphrey, masing-masing ahli bisa berbeda pendapat. “Jadi sulit menentukan tafsir yang sebenarnya. Ditambah lagi kalau ada beban target bagi penyidiknya,” tutupnya.

Seperti diberitakan, Sekjen Cyber Indonesia, Jack Boyd Lapian, melaporkan akademisi Rocky Gerung ke polisi dalam kasus dugaan penodaan agama terkait pernyataan Rocky ‘kitab suci itu fiksi’, pada sebuah acara di televisi swasta.

Rocky dilaporkan karena diduga melanggar Pasal 156a KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun.