Bantu Muslim Uighur, Rumah Zakat Gunakan Tiga Cara

Nasional

NOTULA – Saat ini aktivis HAM dunia dan banyak negara telah menekan Republik Rakyat Tiongkok, terkait dugaan pelanggaran HAM terhadap etnis minoritas suku Uighur di Provinsi Xinjiang.

Elemen masyarakat Indonesia pun tak mau ketinggalan, salah satunya Rumah Zakat. Desakan terus disuarakan, meski RRT tak mengakui penangkapan besar-besaran dan memasukkan sekitar 2 juta muslim Uighur ke dalam kamp konsentrasi yang mereka sebut sebagai ‘pusat pelatihan kejuruan’.

“Kami akan mendistribusikan bantuan bagi pengungsi Uighur di Turki, Cina dan Uzbekistan. Saat ini tim kemanusiaan Rumah Zakat sedang mengurus visa keberangkatan ke sana,” ungkap Chief of Program Officer Rumah Zakat, Murni Alit Baginda, Sabtu (22/12).

Untuk menggalang kepedulian masyarakat Indonesia, Rumah Zakat telah melakukan aksi simpatik dan doa bersama untuk Muslim Uighur yang diselenggarakan serentak di 8 kota, Jumat kemarin, sebagai bentuk dukungan riil, sembari terus melakukan langkah-langkah konkret lainnya.

Sebab itu, Rumah Zakat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membantu menyuarakan hak-hak warga muslim Uighur kepada dunia dengan cara-cara yang mungkin dilakukan.

Menurut Murni Alit Baginda, dengan dalih menekan terorisme, ekstremisme dan separatisme, pemerintah RRT melakukan operesi kepada muslim yang berada di Xinjiang.

Setidaknya tiga tahun terakhir tekanan terhadap kebebasan beragama muslim di Xinjiang terus berlangsung. Diantaranya larangan melakukan ibadah puasa di bulan Ramadan, larangan melakukan ibadah salat bagi para pekerja dan penahanan bagi warga yang dicurigai melakukan ibadah sebagai teroris dan eksterimis.

Puncaknya pada Desember 2018, kamp konsentrasi bagi muslim Uighur digunakan untuk “menginternalisasi keyakinan dan nasionalisme” sembari mengajak keluar dari keyakinan (agama) yang mereka peluk.

Selain ajakan kepedulian kepada masyarakat tertindas dan distribusi ke daerah-daerah pengungsian, Rumah Zakat juga ingin berupaya lebih jauh dengan melakukan pendekatan diplomasi dan dukungan politis.

“Dalam rangka itu Rumah Zakat bersama Indonesian Humanitarian Aid (IHA) rencananya akan bertemu Kementerian Luar Negeri pada hari Rabu depan, 26 Desember 2018,” tutup Murni Alit Baginda.