“Aku Bukan Politikus”, Ratna Sarumpaet: Jangan Ada Lagi Cebong dan Kampret

Nasional

NOTULA – Lakon “Marsinah Menggugat” kembali ditampilkan. Kali ini Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai Marsinah dalam monolog karya Ratna Sarumpaet.

Marsinah merupakan buruh wanita dari Sidoarjo, Jawa Timur, yang kisah tragisnya mewarnai perjalanan gerakan prodemokrasi Indonesia di era 1990-an. Karena memperjuangkan nasib buruh di pabrik tempatnya bekerja, dia tewas dibunuh secara sadis dan mengerikan.

Pementasan monolog “Marsinah Menggugat” dilakukan untuk mewarnai peluncuran biografi Ratna Sarumpaet berjudul “Aku Bukan Politikus” yang diterbitkan Booknesia, Kamis (24/3/22) malam, di Museum Benyamin Sueb, Jatinegara, Jakarta Timur.

Atiqah Hasiholan mkemerankan tokoh buruh Marsinah. (Istimewa)

Atiqah tampil memukau dan memikat di atas panggung, menyempurnakan peluncuran buku yang berlangsung sederhana dan khidmat. Kemampuannya menampilkan Marsinah dan problematika pembangunan serta demokrasi Indonesia, tak kalah dengan penampilan Ratna Sarumpaet, yang adalah ibunya.

Peluncuran yang dilakukan secara hybrid itu juga diikuti sejumlah sahabat Ratna Sarumpaet, seperti Jajang C Noer, Adhie Massardi, dan Hatta Taliwang, serta sejumlah kerabat.

Pada bagian awal peluncuran, pendongeng Agus Nur Amal PMTOH, tak kalah memukau menceritakan kisah yang ditulis Ratna Sarumpaet di dalam bukunya itu. Mulai dari perjalanan masa kecil dan keluarga Ratna Sarumpaet, perkenalannya dengan dunia teater, aktivitas pembelaan HAM dan kemanusiaan yang dilakukannya, sampai sepak terjangnya di dunia politik.

CEO RMOL Network, Teguh Santosa, dalam sambutannya berterima kasih kepada Ratna Sarumpaet dan keluarga yang mempercayakan penerbitan biografi kepada Booknesia.

Sedang Topas Juanda, perwakilan masyarakat Kampung Akuarium di Jakarta Utara, mengatakan, masyarakat mengenal Ratna Sarumpaet sebagai sosok pembela yang tulus dan tidak berpura-pura.

Ratna Sarumpaet memang yang pertama kali “meributkan” penggusuran Kampung Akuarium oleh Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, di tahun 2016. Setelah itu banyak pihak mulai memberikan perhatian.

“Umi (Ratna Sarumpaet) yang kami kenal adalah perempuan tangguh. Beliau juga membantu kami untuk ke pengadilan, sampai meminjamkan uangnya untuk bayar materai dalam surat gugatan,” ujar Topas lagi.

Sedang Jajang C Noer, yang hadir di ruang virtual, mengatakan, Ratna Sarumpaet merupakan orang yang dialogis, tak sungkan menyuarakan hal-hal yang menurutnya tidak sesuai atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Kami saling menyayangi, dalam arti kata kami saling mengkritik kalau salah dan memuji kalau benar. Itulah kami. Persahabatan kami sangat unik, sangat bagus,” ucap Jajang.

Adik kandung Ratna Sarumpaet, Sam Sarumpaet, mengatakan, kakaknya memiliki kemampuan pedagogis yang mampu mentransfer pemahamannya atas berbagai persoalan kepada orang lain.

“Dia tidak ada takutnya pada siapapun. Jadi, kalau nyali kita manusia biasa ada ukurannya, (nyali) dia kayaknya di luar ukuran normal,” tambah Sam Sarumpaet yang juga dikenal sebagai sutradara.

Sementara aktivis prodemokrasi, Adhie Massardi, yang diberi kesempatan pamungkas menyampaikan pandangan mengenai Ratna Sarumpaet, larut dalam haru. Ia hampir tak mampu berkata apapun.

“Ini sahabat saya. Pejuang. Ini hatinya Indonesia,” tutur Adhie Massardi sembari menahan tangis.

Cebong dan Kampret

Nama Ratna Sarumpaet sempat tercoreng saat kasus hoax penyiksaan dirinya, Oktober 2018. Dalam vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dia dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Setelah menjalani masa hukuman dipotong remisi Idul Fitri dan 17 Agustus, Ratna dibebaskan pada Desember 2019.

Dalam sambutan di peluncuran buku, Ratna mengatakan, buku “Aku Bukan Politikus” ditulisnya saat berada di dalam tahanan dan penjara.

“Buku ‘Aku Bukan Politikus’ saya tulis di tahanan. Ketika saya tulis, seperti meredam kemarahan. Begitu kepala saya berputar ke televisi di sel dan melihat keributan Pilpres saat itu, saya seperti mau mati,” tutur Ratna.

Dia juga mengatakan, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang diberkahi Tuhan Yang Maha Esa. Sejarah negeri ini di masa lalu berisi kisah kejayaan dan kepahlawan.

“Negeri ini kayanya luar biasa. Masyarakat internasional iri melihat betapa kayanya kita. Indonesia lahir mengikuti kulturnya sendiri. Indonesia menyusun filosofinya, ideologinya, mengikuti perjalanan hidupnya, perjuangan-perjuangannya dan kulturnya. Itulah Indonesia,” paparnya.

Pancasila dan UUD 1945, sambungnya, tidak kebetulan datang begitu saja, melainkan bekal yang diberikan Allah SWT agar Indonesia mampu menjadi sebuah negara yang bersatu, bersaudara, saling merangkul. Negara yang walaupun memiliki banyak perbedaan, namun masyarakatnya memilih hidup bersama.

Akan tetapi, dia mengingatkan, Indonesia tidak luput dari ancaman kehancuran. Baik oleh tekanan dari luar maupun oleh keretakan dari dalam.

“Mari kita mulai berpikir, tidak lagi bertengkar. Tetapi mencoba, mensiasati, mencoba mencari cara bagaimana supaya kita bisa duduk bersama, bicara tentang nasib bangsa kita ini,” sambungnya.

Indonesia harus melakukan pembenahan, dan rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan tertinggi  tidak boleh takut dengan segelintir oligarki dan elit.

“Harus kita pelajari cara bagaimana kita membenahi bangsa ini. Saya minta dengan sangat, satu kali lagi, bersatulah. Jangan hanya saling memaki, saling meneriaki. Enggak ada gunanya,” ujarnya.

“Jangan ada lagi cebong dan kampret,” pungkas Ratna Sarumpaet.