NOTULA – Demi uang dan jabatan, sejak reformasi 1998, kalangan intelektual Indonesia tak terkecuali akademisi di kampus, bermain di lingkup kekuasaan. Sebagian mendirikan laboratorium (lembaga survei dan konsultan) politik, lalu berubah jadi benalu demokrasi. Parasit yang bikin pohon demokrasi meranggas.

Maka, munculnya Aliansi Advokat Indonesia Bersatu yang diinisiasi pakar hukum berintegritas, Prof Dr Otto Hasibuan dan kawan-kawan, (Kamis, 11/4) hari ini deklarasi mendukung Paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, menjadi sangat fenomenal.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters, Adhie M. Massardi, dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Kamis (11/4).

“Di tengah pragmatisme dunia intelektual saat ini, apalagi dilihat dari namanya yang ‘Advokat Indonesia Bersatu’, wajarnya mereka dukung Paslon no 01 (Joko Widodo-Maruf Amin) yang tengah berkuasa dan memegang seluruh sumberdaya di negeri ini, uang dan kekuasaan,” tutur Adhie.

Tapi Adhie paham, pakar hokum Otto Hasibuan tengah gelisah melihat kondisi dunia peradilan yang morat-marit. Instrumen hukum dijadikan alat kekuasaan untuk membungkam opisisi. Pengadilan jadi panggung dagelan, karena vonis sudah disiapkan dan hakim tinggal membacakan.

Akibatnya, di pengadilan, pasal-pasal hukum (KUHAP) tidak bisa dieksplorasi dengan instrumen keilmuan yang kelak bisa melahirkan jurisprudensi. Sebab fakta hukum di pengadilan yang digali dengan susah payah oleh para advokat, diabaikan oleh hakim yang sudah disetting.

“Saya percaya, dengan mendukung dan andil memenangkan Prabowo-Sandi, obsesi Otto Hasibuan Dkk untuk menegakkan supremasi hukum berkeadilan akan menjadi lebih mudah. Terlebih Prabowo sendiri merupakan korban dari ketidakadilan,” tutur Adhie.

Jubir presiden Gus Dur (KH abdurrahman Wahid) ini juga berpendapat, mobilisasi advokat Indonesia untuk mendukung Prabowo-Sandi bukan langkah pragmatisme, apalagi partisan. Karena fakta di medan Pemilu, paslon no 02 banyak mendapat rintangan dan diintimidasi.

“Saya jadi teringat gerakan ribuan advokat di berbagai kota di Pakistan pada pertengahan 2008, yang demonstrasi menentang Presiden Pervez Musharraf karena menggunakan hukum penguasa untuk menindas orang dan kelompok yang berbeda pendapat (oposisi) dengan pemerintah,” tutur Adhie.

Gerakan moral para advokat itu kemudian diikuti kalangan intelektual lain, sehingga tak sampai dua bulan, gerakan itu berhasil memaksa Musharraf mundur.

“Saya berkeyakinan gerakan Aliansi Advokat Indonesia ini akan menjadi fenomena kebangkitan kaum intelektual di negeri ini, sehingga mengguncang kesadaran moral kalangan intelektual, khususnya di kampus-kampus, agar berani manjalankan tugas moral kaum cerdik pandai terhadap bangsa dan negaranya,” ungkapnya.

Menurutnya, kalau kesadaran intelektual kaum cerdik pandai di negeri ini bisa tumbuh kembali, maka pasca Pilpres 2019 nanti, insyaAllah bangsa ini akan kembali hidup dalam kedamaian, tidak terpolarisasi akibat para politisi busuk yang memainkan peran penting di pentas kekuasaan.

“Kalau itu terjadi, saya yakin teman-teman Aliansi Advokat Indonesia akan kembali ke medan juang mereka masing-masing, untuk menjadi bagian penting penegakkan hukum dan keadilan di negeri ini,” pungkas Adhie, seperti dikutip dari rmol.co.