NOTULA – Ketika menjabat sebagai Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur tidak mau menggunakan Nahdlatul Ulama (NU) dan Banser sebagai alat untuk melindungi kekuasaannya.

Ketika itu, di pertengahan Juli 2001, Gus Dur menghadapi serangan bertubi dari lawan-lawan politiknya, dan akhirnya Gus Dur tumbang dan diganti Megawati Soekarnoputri.

Mantan Jurubicara Presiden, Adhie Massardi, Gus Dur memang tidak mau melibatkan NU dan Banser, karena kedua organisasi itu memang didisain tidak untuk urusan mempertahankan kekuasaan politik.

Ketika itu, sambung Adhie, saat berbicara di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (10/5), ada juga kalangan NU dan Banser dari berbagai daerah yang ingin datang ke Jakarta untuk memberikan dukungan politik kepada Gus Dur.

“Ini urusan politik, dan politik itu urusan saya,” tukas Gus Dur yang menolak kehadiran NU dan Banser, seperti ditirukan Adhie.

Sepenggal kisah itu, menurut Adhie, harusnya menjadi pedoman bagi kalangan NU dan Banser dalam menyikapi situasi yang berkembang pasca pemberian suara tanggal 17 April lalu.

“Jadi ini persoalan Pilpres yang menimbulkan polemik, menimbulkan ketidakpuasan, karena adanya dugaan kecurangan,” kata Adhie Massardi lagi.

Dia juga mengatakan, pada pertengahan 2001 itu, dirinya sempat diperintah Gus Dur untuk menghubungi Ketua Umum GP Anshor, Saifullah Yusuf, agar tidak melibatkan diri dalam urusan politik yang sedang terjadi di Jakarta.

“Saya yakin Banser tidak akan ikut, karena ini memang bukan ranah dia (Banser). Saya sudah jelaskan ke teman-teman Banser bahwa ini bukan ranah Banser. Memang Kiai Ma’ruf sesepuh kita, tetapi kan dia maju bukan utusan dari NU. Jadi tidak ada kewajiban bagi NU untuk membela mati-matian,” katanya.

Adhie juga menjelaskan kepada teman-temannya di Banser, bahwa konflik politik yang terjadi saat ini adalah persoalan Pemilu, persoalan politik.

Jadi, kalau ada apa-apa dengan paslon 01, biarlah mereka memakai jaringannya, seperti Projo dan relawan Jokowi lainnya. Biarkan mereka yang maju, kenapa harus Banser.

“Karena selama ini yang lebih banyak bergerak di kubu 01 itu geng Projo dan relawan-relawan Jokowi. Jadi saya bilang kepada teman Banser, kenapa ketika berhadapan situasi politik dengan rakyat harus Banser yang maju, biarlah relawan Jokowi yang duduk di komisaris-komisaris BUMN itu,” tegas Adhie.

“Gus Dur saja yang dulu pemimpin NU, saat disingkirkan Megawati juga tidak minta tolong NU. Jadi NU itu tidak boleh ikut-ikutan. Kenapa sekarang harus ikut-ikutan, dan ini tidak ada alasan,” pungkas Adhie, seperti dikutip dari rmol.co.