Ada 3 Opsi untuk Penanganan Rel Trem di Kayutangan

Malang Raya

NOTULA – Rel trem peninggalan Belanda yang ditemukan saat penggalian tanah di Simpang Rajabali harus diperlakukan secara khusus.

Wakil Walikota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, mengatakan, ada 3 opsi yang bisa segera dilakukan, tapi prinsipnya harus dilestarikan.

Opsi pertama, rel tersebut tidak diangkat dan dibiarkan saja. Tapi saat pemasangan batu andesit harus dibedakan warnanya.

“Supaya masyarakat tau ada benda bersejarah di wilayah itu,” kata Sofyan Edi.

Rel trem peninggalan Belanda di Kayutangan. (Foto: Yoga Angga Pratama)

a
Kedua, sambungnya, batuan andesit di atas rel diganti dengan kaca, agar tetap terlihat. Tapi pemikirian ini ada kendala, yakni, waktu pengerjaan bertambah panjang.

“Karena kacanya harus didatangkan dari luar negeri. Mendatangkannya saja butuh waktu 6 bulan, belum lagi perizinannya dan permasalahan kemacetan yang makin lama,” imbuhnya.

Sedang ketiga, relnya diangkat, jadi tetap tampak secara visual. Sehingga rel dan batu andesit sejajar dan rata. Tapi ini juga perlu pengkajian dari ahli, karena berkaitan dengan keselamatan pengendara yang melintas.

Semua pilihan itu akan diputuskan oleh Wali Kota Malang. Tapi yang terpenting, dengan adanya rel trem ini, memantabkan suasana heritage di lokasi itu.

“Dari opsi-opsi itu, silahkan masyarakat dan ahli peneliti yang mempertimbangkan. Yang penting tidak membahayakan, dan memperkuat kawasan heritage serta aman”, imbuhnya.

Dia juga mengatakan, kawasan heritage ini akan menjadi sarana belajar untuk masyarakat. Rel trem ini juga menambah keistimewaan kawasan heritage Kayutangan.

Menurut Wawali, kedepan juga akan ditambah dengan narasi, untuk menunjang pembelajaran bagi masyarakat.