23 Tahun Jadi Tukang Sampah, Warga Madyopuro Ini Kini Nyaleg

Malang Raya

NOTULA – Setelah 23 tahun mengabdi sebagai tukang sampah di sebuah kawasan perumahan di Kota Malang, seorang tukang sampah, Dwi Hariyadi (46), warga Jalan Danau Rawa Pening, Madyopuro, Kedungkandang, bertekad maju sebagai calon anggota legislatif (Caleg) DPRD Kota Malang.

Nasib pemungut sampah yang menurutnya stagnan dan belum sejahtera, perlu diperjuangkan secara langsung. Spirit itulah yang mendorong Dwi Hariyadi ikut mencalonkan diri sebagai calon wakil rakyat. Dengan begitu dia bisa bersuara secara langsung di parlemen.

“Peran teman-teman tukang sampah kepada kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat jelas besar. Mereka memungut sampah dari setiap rumah warga,” tuturnya, saat ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Selama ini Dwi bertugas membersihkan sampah 350 warga di wilayah RW 14, Kelurahan Madyopuro. Lepas sholat Subuh, bapak tiga anak itu sudah harus keluar rumah, menarik gerobak, memungut sampah dari rumah ke rumah.

Selanjutnya, sampah yang terkumpul di gerobaknya dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) di belakang Pasar Madyopuro.

Lalu, sejak kapan Dwi bertekad maju sebagai calon wakil rakyat? Dia pun mengisahkan. Sebenarnya keinginan itu sudah ada sejak 2014 . “Masalahnya saya tak pernah berpolitik, dan tidak mengerti harus bagaimana,” tuturnya.

Dwi yang selama ini memang aktif pada kegiatan di kelurahan pun akhirnya bertemu pengurus salah satu partai politik, dan setelah berbincang-bincang, akhirnya ia ditawari menjadi Caleg. “Katanya ada yang batal daftar, lalu saya diminta mengganti,” jelasnya, sembari mengatakan, sejak itu ia langsung menyiapkan semua berkas yang diperlukan.

Kini, Dwi yang mengaku takt ahu menahu soal politik itu ditetapkan sebagai Caleg nomor 9 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), daerah pemilihan (Dapil) 3, Kecamatan Kedungkandang. Dia pun sadar jalan terjal ada di depannya, karena harus bersaing dengan Caleg lain.


Cita-cita mulia itu ternyata tak semulus bayangan. Keluarga sempat menentangnya. Ibu dan istrinya bahkan tak merestui. Apa pasal?

Di mata ibu dan keluarganya, DPRD dipandang berpotensi korupsi. Terlebih berkaca pada kasus yang menjerat 41 anggota DPRD Kota Malang beberapa waktu lalu.

Keluarga juga meminta Dwi berkaca, dirinya hanya tukang sampah dan guru bantu mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Pakis, Kabupaten Malang. Ia mengajar tiga kali dalam sepekan.

Namun, pesimisme keluarga justru membulatkan tekadnya terus maju berkompetisi merebut suara di Pileg 2019. Dan kini sang ibu sudah memberikan restu.

Dia optimis mampu meraup banyak suara. Sebagian besar masyarakat di Madyopuro, kata dia, sudah mengenalnya. Selama ini Dwi memang dikenal aktif di Linmas Madyopuro, bahkan dipercaya sebagai komandan peleton.

Kini, karena keterbatasan dana, banyak hal yang harus dilakukannya secara swadaya. Ia juga menyiapkan alat peraga sesuai kemampuan yang ia miliki. Namun ia yakin cita-cita mulia itu mendapat dukungan banyak kalangan yang sudah dikenalnya.