NOTULA – Sepuluh mantan anggota DPRD Kota Malang terpidana dugaan aliran dana pembahasan APBD Perubahan Pemkot Malang Tahun Anggaran (TA) 2015, akhirnya dijebloskan ke penjara.

Kesepuluh orang itu adalah Arif Hermanto, Teguh Mulyono, Choirul Amri, Suparno, Harun Prasojo, Choirul anwar, Mulyanto, Teguh Puji, Soni Budiarto dan Erni Farida.

“Eksekusi dilakukan ke Lapas Porong, kecuali Erni Farida yang ke Lapas Wanita Malang,” kata Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, kepada wartawan, di Gedung KPK, Kuningan Jakarta, Minggu (28/4).

Mereka sebelumnya telah divonis bersalah menerima suap terkait pembahasan APBD-P Kota Malang tahun 2015, dengan vonis hukuman berbeda.

Para mantan anggota dewan itu awalnya ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga menerima uang dengan kisaran Rp 12,5-50 juta dari mantan Walikota Malang Moch Anton serta gratifikasi dengan total nilai Rp 5,8 miliar.

Seluruhnya ada 41 mantan anggota DPRD Kota Malang yang diproses KPK dalam kasus ini. Sebelumnya KPK sudah menjebloskan 14 terpidana lain yang juga eks anggota DPRD Kota Malang.

Dalam kasus korupsi massal ini, KPK telah menetapkan sedikitnya 45 tersangka. Dua di antaranya mantan Ketua DPRD, Moch Arief Wicaksono, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB), Jarot Edy Sulistyono.

Arief, seperti dikutip dari rmol.co, diduga menerima suap Rp 700 juta dari Jarot Edy untuk pembahasan APBD Perubahan Kota Malang TA 2015 itu.

Sementara kabar paling gres, Cipto Wiyono alias (CWI), mantan Sekertaris Daerah Kota Malang periode 2014-2016 juga ditetapkan sebagai tersangka.

Cipto bersama-sama walikota saat itu, Moch Anton, dan Jarot Edy Sulistyono, memberikan janji berupa hadiah terkait pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD) Kota Malang melalui Arief Wicaksono dan kawan-kawannya.

Atas perbuatannya, Cipto Wiyono disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.